Friday, March 11, 2011

Rational Use of Medicine (RUM)

Mumpung lagi ada waktu luang, pengen nulis tentang RUM (Rational Use of Medicines – detailnya silahkan baca-baca web WHO tentang RUM disini, nah loohh pada bingung kan ngapain nulis tentang beginian, dokter bukan, apoteker bukan, background medis juga ngga punya, kok sok banget nulis tentang RUM hehehehe….Begini ceritanya….

Awal ketertarikan saya mempelajari ilmu-ilmu basic kesehatan adalah karena pengalaman pribadi saya, baik saya sebagai individu, maupun sebagai Ibu dari 2 malaikat kecil saya dan juga tuntutan pekerjaan saya sebagai seorang Underwriter di salah satu General Insurance yang juga menjual produk Asuransi Kesehatan, sehingga saya cukup sering melihat kasus-kasus penanganan kesehatan yang diberikan oleh tenaga medis kita melalui klaim-klaim Asuransi Kesehatan yang masuk. Nah, pertanyaannya apa yang menjadi masalah???

Masalahnya adalah saya sering kali menemui kasus dokter meresepkan obat-obatan ataupun memberikan treatment yang terkadang tidak pas atau malah terkesan berlebihan terhadap suatu penyakit.  Sebagai contoh, ada klaim masuk pasien yang dirawat inap selama 3 hari dengan diagnosa Fatique , karena bukan dokter dan ngga ngerti istilah medis, mulai deh browsing dan searching apa itu Fatique, dan akhirnya disitus Wikipedia saya menemukan ini :

Fatigue (also called exhaustion, lethargy, languidness, languor, lassitude, andlistlessness) is a state of awareness describing a range of afflictions, usually associated with physical and/or mental weakness…..

How come pasien yang hanya didiagnosa kelelahan sampe harus dirawat inap selama 3 hari, kenapa ngga istirahat dirumah aja, setelah di cross check ke RS dan dokter yang merawat ternyata itu adalah permintaan pasien yang bersangkutan.

Itu yang berhubungan sama pekerjaan, belum lagi yang sering saya temui sehari-hari, misalnya, waktu anak2 sakit.  Pernah sekali waktu anak sulung saya, waktu itu umurnya kalo ngga salah sekitar 5 atau 6 bulan, sakit batuk pilek, karena takut kenapa-kenapa saya bawa ke dokter spesialis anak (DSA), pulang dari DSA saya diresepin obat yg waktu itu kurang lebih ada 4 macem (3 obat syrup, dan 1 puyer) ada obat batuk, obat batuk dan pilek, obat anti alergi, antibiotic, obat penurun panas, dan apa lagi saya lupa, yg bikin bingung, udah ada obat batuk msh dikasi lagi obat batuk dan pilek, yg saya liat kandungan aktifnya kurang lebih sama, trus ada obat alergi, perasaan selama periksa tadi sang DSA ngga nyinggung2 anak saya ada alergi, dan memang ngga pernah ada keluahan alergi, belum lagi antibiotic, akhirnya saya nge-batin sendiri kok kesian ya anak saya masih bayi gitu harus minum obat sebanyak itu, apa iya perlu? Itu lah awal mula saya mulai “ngubek-ngubek” tentang penyakit pada bayi dan anak-anak. Sampai akhirnya saya berkenalan dengan milis Sehat.  Tentang apa dan siapa dibalik milis Sehat mungkin sudah banyak yang tau, kalo belum silahkan searching sendiri hehehe…

Singkat kata melalui para dokter yang concern dengan RUM dan para smart parents di milis Sehat akhirnya saya ter-edukasi dan lebih membuka mata saya tentang praktek kesehatan dinegara kita tercinta ini, dan bagaimana selama ini kita sebagai pasien tidak memiliki bargaining power terhadap dokter, kita cendrung mangut2 aja kalo dokter ngasih resep, kadang malah ngga pernah bertanya sebenernya penyakit apa yg diderita.  Umumnya orang hanya datang ke dokter menceritakan keluhannya dan langsung menanyakan apa obatnya tapi tidak pernah meminta dokter untuk secara tegas menegakkan diagnosa, padahal obat-obatan atau treatment yang paling baik adalah yang sesuai dengan diagnosa penyakit.  Kalo ngga yakin dengan penyakit apa yg diderita ya jangan diminum obatnya. Ini kebalikannya kalo kita mau beli barang, kadang kita nanya sana sini, browsing sana sini, bandingin harga dari satu toko ke toko yang lain tapi sebagai konsumen kesehatan, kita cendrung pasrah dan pasif, dikasi resep apa maen tebus aja trus lgs minum tanpa ba bi bu, kalo ngga sembuh balik lagi ke doketrnya marah-marah atau bilang obatnya ngga manjur hehehe….
pic. courtesy of http://www.healthphilosophy.com
 FYI, saya udah pernah gonta-ganti DSA anak saya sampe 5x, dan semuanya ngga ada yang menganut RUM, hampir smuanya meresepkan antibiotic ketika diagnosa yang diberikan adalah common cold (demam batuk pilek ringan) karena virus, belakangan baru saya ketahui bahwa penyakit karena virus adalah self limiting disease alias penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya karena imun atau daya tahan tubuh, jd ngga perlu obat-obatan, antibiotic TIDAK bekerja pada virus, antibiotic HANYA untuk penyakit karena infeksi bakteri.  Silahkan bayangkan sendiri ketika anak kita minum antibiotic padahal hanya sakit batuk pilek ringan karena virus, apalagi kalo antibiotic yang diberikan adalah antibiotic golongan Broad Spectrum, yang cara kerjanya seperti bom nuklir, membunuh semua bakteri yang ada didalam tubuh, termasuk bakteri-bakteri baik yang diperlukan untuk proses metabolisme dan pencernaan, tentu akan berdampak buruk, dan jeleknya lagi, bakteri - bakteri jahat yang tidak terbunuh akan bermutasi dan menjadi kebal, akibatnya kalo keseringan maka lama kelamaan ketika menderita penyakit yang benar-benar membutuhkan antibiotic maka tidak ada lagi antibiotic yang mempan….sereeemmmm kannnn????? :(

Itu baru sedikit dari sekian banyak kasus yang saya temui, intinya adalah sebagai konsumen kesehatan mari lah kita membuka diri dan mengedukasi diri sehingga kita juga bisa berdiskusi dengan dokter, ngga hanya pasrah dan menyerahkan nasib kita atau bahkan nasib anak-anak kita diujung pena sang dokter. Disatu sisi kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dokter yang tidak mengedukasi pasiennya, bisa dibayangkan profesi dokter yang punya jam kerja panjang, belum lagi kalo harus praktek dengan pasien yang mengantri kayak uler sehingga kalo semua beban kita tumpuk di pundak dokter,  wahh ngga kebayang, bisa-bisa ngga pulang tuh dokter, nah setidaknya kalo kita sudah punya basic ilmu nya, diharapkan bisa terjalin komunikasi dua arah antara dokter dan pasien.
Ilmu kedokteran itu ibarat buku yang terbuka, siapa saja bisa mempelajari, informasi bisa diperoleh darimana saja, tentu saja ngga bisa serta merta disamakan dengan dokter yang memang menuntut ilmu akademis selama bertahun-tahun tapi setidaknya karena kita sudah punya basic knowledge nya, dokter ngga harus berbusa-busa lagi menjelaskan dari awal. Diharapkan kalo para konsumen kesehatan udah pinter-pinter, maka kalangan medis juga akan meningkatkan profesionalisme nya. WHO sudah menyuarakan perihal RUM ini, dan sudah diikuti oleh banyak negara, nah masa Indonesia mau ketinggalan melulu sih, ayo bangkit dan berjuang, ini memang tidak mudah, tantangannya banyak bgt, saya juga mengalami, setiap anak sakit, saya pasti diomelin mulai dari suami, mertua sampe orang tua saya, saya sering dibilang tega sama anak, anak sakit ngga dibawa ke dokter, bahkan waktu saya coba jelasin tentang RUM ini papa saya dan suami pernah marah besar dan bilang kalo saya itu sok kepinteran, ngalah2in dokter ktnya hehehe, maklum anak2 saya cucu pertama baik dari keluarga saya maupun keluarga suami jadi kalo pada sakit yg paling heboh ya eyang nya dan oma opa nya hehehe...belum lagi dikota saya ngga ada DSA yg pro – RUM, jd susah kadang saya terpaksa ke dokter karena terus-terusan didesak, dikasi resep pun terpaksa saya tebus, walaupun keseringan saya minumin ke wastafel, kalo ditanya anaknya udah dikasi obat apa belum saya jawab aja udah, beres kan hehehe.....

Akhir kata, tulisan ini saya buat bukan untuk menyudutkan pihak manapun atau mendeskriditkan profesi dokter, sama sekali tidak, papa mertua saya juga seorang dokter spesialis, dan saya tau masih banyak dokter-dokter ataupun tenaga medis diluar sana yang tetap berjuang dikoridor yang benar, tidak hanya profit-oriented, mari kita dukung dengan menjadi smart consumer, kenali penyakitnya, kuasai ilmunya atau tata laksana nya dan bijak dalam memutuskan kapan harus benar-benar datang ke dokter atau ke rumah sakit.

Berikut sedikit website – website kesehatan yang reliable :
www.who.org
www.mayoclinic.com , info ttg segala macem penyakit, mulai dari definisi, gejala, penyebab, sampai treatmentnya
www.drugs.com , kalo mau cari info obat-obatan
www.aap.org  American Academy of Pediatric ini sering dijadikan acuan oleh para dokter anak hampir diseluruh dunia
www.kidshealth.com
www.healthychildren.org

itu sebagian yang bisa saya share ntar kalo ada lagi yang inget saya tambahin.

Note : Pesen buat para dokter, kali-kali aja ada yang baca, kenapa sih dokter kalo nulis resep tulisannya kayak cakar ayam, kan susah bacanya, trus kalo apoteker salah baca dan salah ngasih obat gimana hehehehe….(yg ini sih lebay)

No comments:

Post a Comment