Thursday, May 5, 2011

Working Mom as a Choice


pic. courtesy of http://tripletsintribeca.com
Kalo saat ini saya memilih sebagai ibu yang bekerja bukan berarti saya tidak cinta atau tidak perduli pada keluarga terutama anak-anak, ada beberapa alasan mengapa saya memilih bekerja diluar rumah ketimbang menjadi ibu rumah tangga yang stay dirumah.  Well, I have to admit kalo saya bukan tipe yang bisa diam dirumah, dari sebelum menikah saya sudah bekerja dan terbiasa sibuk, pergi gelap pulang gelap hehehehe…dan weekend pun saya memilih mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan lain, selain kursus bahasa asing, saya juga menjadi volunteer untuk mengajar disekolah khusus anak-anak jalanan di Taman Ismail Marzuki.  Sekarang setelah menikah dan punya anak tentu saja harus ada penyesuaian disana sini, konsekuensi atas pilihan saya sebagai working mom adalah waktu bersama anak-anak menjadi tidak banyak karena itu saya selalu berusaha memanfaatkan waktu-waktu yang ada misalnya pagi hari sebelum saya berangkat kerja, setelah saya menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak-anak, mulai dari pakaian, makanan, camilan, dll, saya selalu memandikan mereka dan sarapan bareng sambil mendengarkan celotehan mereka, jam istirahat kantor pun saya sempatkan untuk pulang, untungnya jarak kantor sama rumah cukup dekat.  Malam hari sebelum tidur pun saya, suami dan anak-anak sering menghabiskan waktu bersama, walaupun cuma kruntelan ditempat tidur sambil kadang baca buku cerita, main kuda2an (ini sih bagian ayahnya nih….hehehehe)
 
Alhamdulillah sejauh ini semua berjalan lancar, saya juga harus bersyukur dikaruniai anak-anak yang begitu cerdas dan pengertian, mereka mengerti bahwa ayah dan ibu nya bekerja, jadi nyaris tidak pernah ada acara nangis ditinggal pergi kerja, yang ada kalo saya cuti mereka malah nanya “kok Ibu ngga kerja?” :p. Sesekali kalo saya terpaksa lembur dihari libur, saya sering mengajak anak-anak, sebagai konsekuensi saya mengambil hari libur yang seharusnya jadi “jatah” mereka.
Saya sendiri juga dibesarkan oleh seorang working mom, saya salut dan kagum pada Ibu saya, walaupun bekerja, kami anak-anaknya tidak pernah merasa kekurangan perhatian malah saya dan adik-adik menjadi terbiasa mandiri, ketika kuliah harus jauh dari orang tua pun kami tidak pernah merasa kerepotan karena sudah terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Dan sebagai ibu dari 2 anak laki-laki, saya sekaligus ingin mengajarkan kepada mereka bahwa baik wanita maupun pria memiliki kesempatan yang sama dalam berkarya, wanita tidak selalu hanya diam dirumah dan hanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, tapi juga mampu mengerjakan berbagai hal dan dapat berprestasi dibidangnya masing-masing.  Walaupun kadang sedih tidak bisa selalu bersama mereka tapi saya berusaha mengambil sisi positifnya, dengan begitu saya berharap kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan ketika dewasa, mereka akan dapat lebih menghargai dan menghormati wanita.

Kalo boleh mau bagi-bagi sedikit tips ya buat para working moms:

Beri pengertian pada anak
Memberi pengertian pada anak itu perlu, jelaskan dengan bahasa yang mudah mereka pahami kenapa Ayah dan Ibu nya harus bekerja, terutama Ibu nya, karena mungkin saja anak akan membandingkan dengan temannya, “Kenapa kok Ibunya si X ngga kerja sedangka Ibu kerja?”.  Dan jangan lupa anak-anak itu cerdas-cerdas loh, mereka  bisa mengerti apa yang kita sampaikan.

Berpamitan setiap hendak berangkat kerja.
Intinya adalah, jangan membohongi anak. Mungkin saja awal-awal anak akan menangis ketika akan ditinggal kerja, namun pergi secara diam-diam bukan lah tindakan bijaksana.  Anak akan merasa dibohongi dan akan semakin merasa tidak nyaman ketika ditinggal.  Saya pribadi punya ritual kecil ketika akan berangkat kerja, yaitu ”cium 3 kali” jadi sebelum pergi kerja saya akan mencium anak-anak sebanyak 3x (pipi kanan, pipi kiri dan bibir).  Kalo terburu-buru dan lupa melakukan ritual itu, anak-anak otomatis ngingetin ”Bu, cium 3 kali nya belum” hehehehe. Saya percaya hal-hal kecil seperti itu akan terekam dalam memori mereka hingga mereka dewasa.

Manfaatkan waktu bersama anak semaksimal mungkin.
When you are with your children, you have to be really present for them.  Singkirkan semua gadget ketika sudah sampai dirumah. Jujur nih ya, kalo yang satu ini saya pribadi masih belajar juga, soalnya kadang masih sering pegang-pegang Blackberry, ntah sekedar cek email, baca-baca timeline twitter, bales2in BBM hehehehe...tapi anak saya yang gede udah bisa protes sih ”Ibu, jangan main BB mulu dong”.  Karena alasan itu juga saya tidak mem-push email kantor ke handheld Blackberry saya, biar kalo sudah dirumah ngga pusing lagi sama urusan kerjaan, yah walaupun kadang masih sering juga terima telp urusan kantor :p.  Dan jangan lupa yang paling penting, seruwet apapun urusan pekerjaan, jangan sampai terbawa ke rumah, usahakan kita tetap ceria ketika akan bertemu anak-anak.

Bertanggung Jawab
Sesibuk apapun kita, anak-anak adalah tetap menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua.  Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya, bukan bagi kakek-neneknya atau pengasuhnya, walaupun dalam kesehariannya kita butuh bantuan dari orang lain, ntah kakek-nenek atau pengasuh.  Tetap lakukan kewajiban sebagai orang tua, misalnya memantau kegiatannya baik dirumah maupun disekolah, nemenin bikin pe-er, dll.  Dengan begitu kedekatan dengan anak akan tetap terjaga, anak tidak lantas menjadi dekat dengan pengasuhnya, misalnya.

Intinya adalah, apapun pilihan kita semua pasti ada konsekuensinya, ada ups and downs nya, karena itu saya memilih menjalani apa yang menjadi pilihan saya dengan ikhlas dan sebaik mungkin.


  Of all the rights of women, the greatest is to be a mother."  -- Lin Yutang 

pic. courtesy of http://wifemomworklife.blogspot.com

No comments:

Post a Comment